Our social:

Adventure | Traveler | Challenge | Lifestyle

Monday, July 02, 2012

Aku Jatuh Cinta Pada Lelaki Luar Biasa

"Kisah Inspirasi ini ditulis oleh salah seorang sahabat sekaligus atasan ku"
-Dedicated for Miskam-
AKU JATUH CINTA PADA LELAKI LUAR BIASA
  
Terpaut hati bukan berarti lantang terucap dari diri. Bukan pula lewat mimik yang sekedar terhiasi. Akan tetapi, janji di hati, serta doa yang senantiasa mengiringi detak hati menjadi bukti akan janji hati dan pengabdian diri. Seperti, desiran angin musim semi yang membawa banyangan seorang lelaki luar biasa yang terus ada di pelupuk mati ini. Dan menginspirasi untuk mengait bait menjadi alur cerita diri. Terlepas dari cerita hanyalah biography atau narasi, semoga tetap menginspirasi dan menjadi pembalajaran diri…..

BELAJAR DARI SEPATU USANG

Tak kuasa kuhitung lembaran dedaun kering yang jatuh memenuhi sekiling rumah mungil tempat keluargaku bernaung. Seperti tak kuasanya hati menahan rindu akan belaian bijak, dan ajakan berkeliling tugu kota dengan Pesva sederhana bersama dua adik-adikku. Yang kami hanya tahu dan mau saat-saat seperti itu adalah ajakan mampir ke warung kopi dan memesan teh susu dan pisang goreng pavorit kami. Tetapi…. Ada sepenggal rindu yang terkadang tak kuasa kami tahan adalah onggokan sepasang sepatu yang selalu tersusun rapi dibelakang pintu masuk, yang selalu kami perebutkan bertiga ketika dia baru tiba…. Dan tiupan rindu lewat sang bayu tak hanya memporak-porandakan dedaun yang telah disapu, tetapi juga lamunanku tentang Bapakku…. Bapak memang hanya berada dirumah beberapa hari dalam seminggu. Karena tuntutan kerjanya yang harus membawa mobil keluar kota dan tak memungkinkannya untuk selalu ada bersama kami…. Tetapi lewat hal ini, Bapak mengajarkan kami tentang banyak hal dalam hidup.

Ya, dia selalu mengajarkan banyak hal yang luar biasa kepada kami dengan cara yang luar biasa pula. Dengan contoh, dengan sikap, dan dengan prilakunya. Suatu saat ketika kami telah mulai tidak suka lagi diajak berkeliling kota bersama dengan Vespa-nya, atau mungkin sang kendaraan yang sudah tak lagi kuat untuk mengangkat kami berempat, pada kesempatan terakhir pergi bersama beliau menceritakan satu ajarannya yang dia harap akan dimengerti oleh kami selamanya…. “Bapak sengaja selalu menaruh sepatu sepulang bekerja dibelakang pintu” ujarnya. Begitu juga dengan logam uang didalam sepatu yang selalu kami perebutkan. Lewat sepatu ini Bapak ingin mengajarkan, bahwa jika kalian mengaharapkan sesuatu, bukan berarti hanya dengan senjata meminta dan dikasihani. Tetapi kalian harus selalu berusaha, meski kadang kompetisi akan selalu ada. Dan itulah kehidupan. Dengan berusaha mendapatkan uang dari dalam sepatu Bapak, berati kami harus membersihkan sepatu itu pula. Juga, melatih kami untuk memiliki rasa malu jika tidak melakukannya hanya dengan mengambil uangnya saja. Bapak juga ingin mengajarkan kami tentang disiplin itu salah satunya adalah menaruh sesuatu sesuai dengan tempatnya, sehingga gampang jika dicari dan dibutuhkan setiap saat. Dan satu hal yang penting, Bapak mengajari bagaimana menghargai apa yang kami miliki dengan merawatnya. Karena, meski sepatu Bapak hanyalah sepatu bekas yang dibeli di pasar dengan harga yang tidak seberapa, tapi tetap dibeli dengan jerih payahnya dalam mencari rezky. Dan kami harus belajar menghargai pengorbanan usaha serta mensyukuri apa yang kami miliki.

Sepatu usang Bapak tersebut mengajariku sampai sekarang tentang menghargai dan mensyukuri setiap rezky dan hasil usaha jerih payah. Sehingga aku selalu merawat dan menjaga apapun yang aku miliki…. Tak jarang ku merasa prihatin akan benda milik orang lain yang tergeletak, atau bahkan tak terawat sebagaimana harusnya. Sehingga ku sering berpikir bahwa mereka lupa akan makna bersyukur sesungguhnya…. Terima kasih Bapak buat ajaranmu tentang menghargai dan cara bersyukur…..

KUHAFAL SETIAP LEKUK TANDATANGANNYA

Tugasku yang satu ini adalah tugas yang tak nyaman sesungguhnya untuk dilakukan selama bertahun-tahun. Menandatangani daftar penerimaan dan gaji pegawai-pegawai yang malas melakukannya setelah mengambil gaji atau tunjangannya. Akan tetapi, hal ini mengingatkanku akan saat-saat sekolahku, dari mulai bangku sekolah dasar bahkan sampai perguruan tinggi. Aku selalu menandatangani rapot hasil pelajaranku sendiri dengan mencontoh tanda-tangan Bapak.

Karena Bapak jarang tepat berada di rumah disaat raport akan dikumpulkan kembali, jadi Ibu memintaku mendatangani sendiri dan juga buat adik-adikku. Bapak memang tidak pernah tau bagaimana hasil belajarku di sekolah, dia juga tidak pernah menanyakanku tentang meningkat atau lebih jeleknya pemahamanku tentang suatu pelajaran. Hanya satu kalimat pertanyaan yang sampai sekarang aku hafal penuh yang senantiasa keluar dari mulutnya, “Ada perlu apa buat sekolah?”. Dengan kemampuan financialnya yang tak seberapa, beliau selalu ingin berusaha untuk mencukupi kami untuk terus bersekolah. Serta selalu percaya bahwa kami bisa lebih baik dari beliau suatu saat nanti. Hal ini selalu memacuku untuk melakukan yang terbaik semampuku untuk membuatnya bangga, dan merasa bahwa aku menghargai semua jerih payahnya. Meski Beliau tak pernah tau bahwa anaknya selalu ada diurutan atas disetiap kelasnya, walau Dia juga tidak pernah mengerti bahwa anaknya tak lagi harus membayar SPP sejak lulus sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dan ku pun hanya tau, bahwa ku hanya ingin menghargai setiap tetes keringan Bapak buatku dan keluargaku….

KOMITMEN, DEDIKASI, DAN KEJUJURAN VERSI BAPAK

Tak jarang, aku dan Ibu menanti Bapak tiba di rumah sampai larut malam, atau bahkan dini hari. Karena mobil yang tidak bagus, atau cuaca hujan dan kondisi jalan yang tidak baik untuk laju kendaraan Bapak agar sampai kerumah sore hari. Bukan itu saja, Bapak sering harus berangkat dini Subuh, bahkan bekerja disaat orang lain libur. Bukan karena Bapak seorang yang workaholic, akan tetapi pekerjaannya yang menuntut Beliau seperti itu. Dan, Dia tidak pernah menunda-nunda apapun pekerjaannya. Juga, Beliau selalu melakukannya dengan sepenuh hatinya. Meski terkadang kondisi badannya tidak memungkinkan pun, Beliau tetap memutar roda dan mengijak pedal gas-nya. Beliau hanya memikirkan, bahwa putaran roda sejalan dengan raungan perut-perut kami anak-anaknya. Sehingga, Beliau selalu berusaha sepunuh hati melakukan setiap pekerjaannya.

Satu hal yang lebih diatas segala adalah komitmen dan juga dedikasinya atas pekerjaan yang bagi sebagian besar masyarakat adalah pekerjaan yang sangat biasa., tapi baginya, tugas dan pekerjaannya adalah hal yang harus dilakukan sebaik-baiknya, karena semua menyangkut tanggung jawab dan kepercayaan padanya. Begitu juga cintanya pada Ibu. Dari contoh yang diberikan Beliau, aku belajar bagaimana untuk tetap fokus akan apa yang harus dikerjaankan, mengajarkanku pula bagaimana untuk tetap komit akan apa yang menjadi tujuan yang ingin aku raih. Yang berarti kebulatan tekad, bahwa ketika merencanakan sesuatu harus dilakukan sampai tuntas, dan tidak berpikir hal lain sebelum apa yang menjadi target tercapai. Bapak selalu bilang, sekali kita tidak memegang komitmen akan apa yang telah kita pilih, maka selamanya kita tidak akan pernah mencapai apapun sebagai tujuan dan keinginan kita…. Bapak bukanlah seperti Rene Suhardono seorang ahli strategic career ternama, tapi Beliau selalu bisa memberi contoh bagaimana tidak menyerah pada kondisi dan tetap bersemangat maju. Jika memilih melakukan sesuatu, maka majulah sampai kamu capai. Dan, jangan pernah terlalu banyak keinginan sebelum kamu wujudkan keinginanmu tersebut satu persatu. Terima kasih Bapak untuk mengajarkanku bagaiamana tetap fokus pada setiap tujuan dan keinginan.


BAPAK DAN PAK JAKSA

Lembar cerita Bapak adalah bagian dari lembar kisahku. Begitu juga dengan sepotong kisah Pak Jaksa yang luar biasa pernah membuat hidup kami porak-poranda. Syukurnya kami bisa membangun kembali segalanya untuk tetap maju dan bergerak. Bapak yang polos dan tak pernah belajar hukum, begitu juga dengan Ibu yang tidak pernah punya ketersinggungan dengan segala urusan hukum terpaksa harus pontang-panting karena akal-akalan Pak Jaksa dan teman-temannya. Bahkan untuk urusan yang aku kira sangat sepele setelah aku besar dan mengerti berpikir. Berawal dari seorang pekerja yang ikut bersama kendaraan Bapak mengambil spanduk iklan rokok yang baru dipasang beberapa hari, akhirnya teman Bapak dilaporkan ke polisi dan Bapak juga secara langsung jadi ikut-ikutan dicari. Bapak hanya bisa lari tanpa bisa membela diri, dan berpesan ke Ibu, bahwa sementara Bapak mau pergi dulu menghindar dari kejaran, dan pintar-pintar memanfaatkan apa yang kami miliki. Saat itu

Sejak kejadian itu, ada saja polisi atau orang yang mengaku jaksa datang ke rumah mencari Bapak selama beberapa waktu. Kami selalu dibayangi rasa takut kalau bawa harus dibawa. Bapak pun tak pulang-pulang untuk sekian waktu. Dan, jika pun pulang maka hanya sebentar dan pergi lagi tanpa kami tau kemana. Bersamaan, persediaan Ibu pun habis, dan dengan berat hati Ibu harus menjual satu persatu dari mulai kain sampai tempat tidur serta apa yang kami punya di rumah untuk menutupi kebutuhan. Dan, rumah kami menjadi lapangan bola karena semua furniture habis terjual..hahah. Sampai untuk beberapa saat, kami sekeluarga harus membantu seorang penjual soto yang sebelumnya sempat mengontrak di rumah kami untuk mengupas kulit bawang, dan memetik cabai untuk dibuat sambal setiap hari. Kasihan sungguh Ibu… Dia harus melakukan itu hanya untuk mendapat upah sekedarnya beserta nasi dan lauk sedikit dari yang akan dijual sipenjual soto. Kejadian ini mengajarkan kami akan kesabaran atas segala peristiwa, dan mendidik kami untuk tetap kuat dengan semua keadaan, serta punya budaya malu untuk meminta pada siapapun, serta tidak mudah menyerah. Bahwa hidup akan selalu bergerak, bahwa keadaan akan menjadi lebih baik jika kami mampu melewati semua ujian.

Dan kini, dengan semua yang telah dicontohkannya, diajarkannya, dan ditanamkannya kepada kami para anaknya, dia tetap pada komitmennya, bahwa bijak berarti adalah tidak mengeluh. Bahwa bijak juga adalah bukan berfoya-foya ketika berlebih. Dan, Meminta adalah satu hal yang harus dihindari hanya untuk bertahan hidup. Teringat ketika ku dibelikan baju lebaran, Beliau berpesan. Baju ini cuma sebagai rasa syukur saja, dan bukan sebuah keharusan atau suatu kewajiban harus membeli baju baru. Bapak bilang, sekali kita beli baju baru, pasti kita ingin pakai, lantas mau jalan kemana-mana untuk dilihat orang, akhirnya, banyak pengeluaran yang harus kita keluarkan. Itulah cara Bapak menginterprestasikan tentang multifactor impacts tentang pemborosan, dan cara mengajari kami pola hidup sederhana dan bersyukur. Akhirnya, kami mengerti bagaimana merawat apa yang kami punya, dan menghargai atas bagaimana jerih payah mencari uang dan menghargai setiap tetes jerih payah yang dikeluarkan untuk membeli sesuatu, serta mengerti tentang prioritas untuk membeli apa yang penting, bukan membeli sesuatu karena mengikuti nafsu atau gengsi. Sampai sekarang, aku tetap menjaga dengan baik pakaian, sepatu, dan perlengkapanku. Bahkan, tak jarang aku masih punya baju yang masih bagus meski sudah dibeli lebih dari 6 sampai 10 tahun, atau bahkan lebih.

Jika Berhasil Bukanlah Miliknya….
Pelajaran dari bahasa sederhana Bapak adalah ilmu yang sangat luar biasa yang tidak pernah aku terima dari siapapun dan dimanapun. Bahwa contoh, perilakunya adalah tauladan yang tak dapat dibanding dengan siapapun. Jika harus ku bersekolah dan mendapatkan sebuah sertifikat untuk Bapak, maka sepanjang umurpun kuhabiskan waktuku hanya untuk belajar, takkan aku  pernah lulus untuk mendapatkan sertifikat untuknya. Tapi Bapak bukanlah seorang yang harus mendapatkan sesuatu imbalan atas apa yang telah dilakukannya. Sepanjang usiaku, tak pernah sekalipun kudengar beliau berkeluh kesah kepadaku, apalagi sampai meminta. Bahkan saat dia harus menahan sakit sekalipun……

Disini, didalam ruang rumah sakit umum yang kondisinya begitu mengenaskan buatku, sangat jauh dari bayangan ruang VVIP rumah sakit mewah, Bapak tak hanya harus menahan rasa sakit dari penyakitnya, tapi juga menahan kondisi keadaan ruangan rumah sakit yang panas, ribut oleh suara para pasien-pasien lainnya beserta keluarga penjaganya….. Tetap saja, Bapak adalah sosok luar biasa yang tetap kuat dan menerima semua keadaan yang ada pada dirinya. Aku hanya bisa mereka semua isi hati dan pikiran dalam diamnya… Sesekali dalam lemah dan pikiran yang terkadang ingin menyerah aku berbisik dalam hati, jika mungkin kutanggung semua penyakit yang ada pada Bapak. Tapi jika kupikirkan kembali, Bapakpun takkan rela jika hal tersebut harus terjadi. Disamping itu, siapa lagi yang akan membantunya untuk berobat jika harus aku yang bergantian sakit…., meski aku hanya mampu untuk mencicil pengobatan Bapak, dan hanya mampu berusaha mengangkat dan mengobati penyakit Bapak satu persatu karena menunggu rezky terkumpul.

Jika berhasil bukanlah milik Bapak, dia pasti juga berbesar hati untuk menerima dan mengikhlaskan berhasil untuk menjadi milik anak dan keturunannya. Aku percaya bahwa doanya senantiasa berdetak dalam diamnya untukku dan keturunannya. Ikhlas dan kesabarannya adalah harta yang senantiasa terus aku usahakan untuk diwarisi, bahkan jauh dari keinginanku untuk mendapatkan hal lain dari dunia ini. Bapak, terima kasih telah mengajariku untuk menghadapi dunia… Terima kasih telah menuntunku untuk mengerti bahwa menyerah dan mengeluh adalah hal tabu. Serta, Komitmen atas pilihan adalah prinsip hidup… Aku Cinta Bapak sepanjang hidupku, dan banggaku menjadi anakmu… Dan semoga Bapak bangga memilikiku….


Batam Island
February 26, 2012
“Lilik Miskam Alkarim”

1 comment:

  1. I really admire your travel logs and love to read them and I also recommend them to my friends. I am facing some issue with the translation, kindly some solution for it.

    ReplyDelete

Anyone can give the idea, information or question
Dont Be Shy.....