Our social:

Adventure | Traveler | Challenge | Lifestyle

Saturday, October 03, 2009

Sebuah Catatan Hidup

25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan.

Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami sederhana, ingin hidup bahagia.

22 tahun yang lalu,

Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.

19 tahun yang lalu,

Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak "Horeee, Iya bisa terbang". Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah. Dan Kania tak jarang berteriak, "Iya sayaaang," jika sudah terdengar suara "Prang". Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca. Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang "Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?"

18 tahun yang lalu,

Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu.

Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya. "Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!" tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu. "Horee, Iya jadi pemain bola."

17 Tahun yang lalu

Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang aku tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari sekolah.

Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan "Iyaaaa". Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini.

Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata "Coba kalau kamu tak belikan ia bola!"

15 tahun yang lalu,

Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah. Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa> waktu Kania hendak mencari ke luar negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.

13 tahun yang lalu,

Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya. Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.

10 tahun yang lalu,

Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku.

Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya.

"Biar cantik kalo kere ya kelaut aje." Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga.

"Sabar ya, Nak!" hiburku.

"Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!"

pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.

7 tahun yang lalu,

Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang membuat aku takut.

Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia. Sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP. Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.

4 tahun lalu,

Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir

tiga tahun dia di sana. Dia bekerja sebagai seorang

pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak

suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya

tak pernah siratkan sinar baik. Dia juga dikenal suka

perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang

keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena

akhir-akhir ini dia sering diganggu. Lebaran tahun ini

dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari

suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu

menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku

jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang

baik usahakan untuk salat tahajjud. Tak perlu

memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap bulan

Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat

hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih

pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.

3 tahun 6 bulan yang lalu,

Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian

pemerintahan Malaysia, kabarnya anakku ditahan. Dan

dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh

suami majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku

menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut

tak mungkin membunuh. Lagipula kenapa dia harus

membunuh. Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia>

untuk menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun

aku gelisah menunggu kasus anakku selesai. Tenaga

tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa

memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia

memang bersalah.

2 tahun 6 bulan yang lalu,

Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti

bersalah. Dan dia harus menjalani hukuman gantung

sebagai balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain

menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi

apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak

belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku

kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan aku.

Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke

Malaysia. Anakku ingin aku ada di sisinya disaat

terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya

sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa

daya kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan

pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku

erat, seakan tak ingin melepaskan aku.

"Bapak, Iya Takut!" aku memeluknya lebih erat lagi.

Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya.

"Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?"

"Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya

tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan

dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak

salah kan, Pak!" Aku perih mendengar itu. Aku iba

dengan nasib anakku. Masa mudanya hilang begitu saja.

Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu

menuntut agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki

itu juga orang terhormat. Aku sudah berusaha untuk

memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia

tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam

bulan untuk memohon hukuman pada wanita itu.

2 tahun yang lalu,

Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu

akan hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika

dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak

ingin melihatnya. Aku melihat isyarat tangan dari

hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang diinjak

anakku. Dan 'blass" Kamilaku kini tergantung. Aku tak

bisa lagi menangis. Setelah yakin sudah mati, jenazah

anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah kaki

menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain penutupnya

dan tersenyum sini. Aku mendongakkan kepalaku, dan

dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat

garis wajah yang kukenal.

"Kania?"

"Mas Har, kau> ...> !"

"Kau> ...> kau bunuh anakmu sendiri, Kania!"

"Iya? Dia..dia> .> Iya?" serunya getir menunjuk jenazah

anakku.

"Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola

jika sudah besar."

"Tidak> ...> tidaaak> ...> " Kania berlari ke arah jenazah anakku.

Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris.

Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan

secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia

diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya "Terima

kasih Mama." Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila

sudah tahu wanita itu ibunya.

Setahun lalu,

Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih

istriku. Yang aku tahu, aku belum pernah

menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia mati

bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan

anakku, Kamila. Kata pembantu yang mengantarkan

jenazahnya padaku, dia sering berteriak, "Iya

sayaaang, apalagi yang pecah, Nak." Kamu tahu Kania,

kali ini yang pecah adalah hatiku.


Sumber : unknown

3 comments:

  1. gus kok kaya bacaan dikomputer pt kita dulu. he.... he... he

    ReplyDelete
  2. ia mas manto, dikirimin seseorang buat di posting untuk berbagi pengalaman hidup hehe, yg jelas bukan pengalamanku koq hehe..

    ReplyDelete

Anyone can give the idea, information or question
Dont Be Shy.....